Kamis, 14 Mei 2015

Daun Afrika Bandung

Daun afrika sudah sampai di Bandung. Bahkan sesungguhnya Tatar Bandung bisa menjadi kawasan ideal pengembangan daun afrika ini.
Kebanyakan orang berpikir bahwa tanaman ini cocok di tempat panas, dataran rendah. Yang terpikir soal afrika adalah daerah panas yang bikin gosong. Padahal di afrika tropis ada puncak gunung Kilimanjaro dengan es abadi.
Mengapa Tatar Bandung penting bagi usaha tani pohon daun afrika?

  • Di habitat aslinya pohon daun afrika ini tumbuh pada ketinggian lebih dari 1500 m dpl. Bandung kota hanya plus minus 700 m dpl, sesungguhnya masih kurang ideal. Di halaman saya, perdu berkayu ini mampu berbunga, waktunya di sekitar akhir tahun, tetapi gagal berbuah. Bunga-bunga mengering setelah semerbak sejenak. Di tempat yang rendah, seperti Jakarta dan Tangerang serta Medan, hampir semua pemilik pohon, tidak pernah melihat pohon daun afrika miliknya berbunga. Wangi bunga berwarna putih ini mirip melati tetapi lebih lembut dan kurang merebak. Jika mendapatkan lahan ideal, pohon daun afrika ini akan berbuah, dan orang akan berebut mencoba khasiat afrodisiak, obat kuat, gitu.
  • Bandung tempat bercokol beberapa perguruan tinggi yang memiliki kompetensi terkait pengembangan produk dan produksi. Ada ITB yang merupakan perintis pendidikan sains di Indonesia; ada Unpad yang fakultas farmasinya cukup eksis dalam menghasilkan formula obat herbal terstandar; ada Unpas yang bidang teknologi pangannya cukup menonjol. Jadi tidak ada alasan daun afrika tidak sukses di Bandung
  • Pada level perdagangan, di Bandung juga banyak toko herbal dan jamu yang telah lahir dan tumbuh puluhan tahun, masing-masing memiliki pelanggan yang bejibun, tidak hanya warga kota, tetapi datang dari luar kota. Salasatu yang terkenal, sudah tumbuh 3 generasi, adalah toko bahan jamu Babah Kuya. Keberadaan toko-toko besar ini mempermudah akses kepada para pengobat alternatif atau pengguna langsung daun afrika.
  • Komunitas kreatif sudah menjadi ciri unggul Bandung, utamanya dalam sektor kuliner, makanan dan minuman. Daun afrika membutuhkan “darah segar” ide dan gagasan pemanfaatan. Daunnya yang amat pahit ini sering menjadi kendala, sekalipun bagi mereka yang benar-benar ingin sembuh dari penyakit. Mungkin merupakan potensi bisnis bisa menyajikan daun afrika dalam menu sup atau minuman hangat yang nikmat.


Sekarang ini produk berbahan baku daun afrika sudah mulai diterima masyarakat. Pada umumnya masih sederhana dalam bentuk teh herbal. Para produsen dan pedagang mulai menggeliat di Medan, Batam, Jakarta, dan Jawa Barat. Di Amerika Serikat pun, produk yang mampu dimasyarakatkan baru bentuk teh herbal ini.
Daun afrika ini masih luas kemungkinan pengembangan produk. Selain teh herbal, baik dengan simplisia segar, maupun pun kering, telah dicoba memroduksi sabun muka dengan kandungan virgin coconut oil dan ekstrak daun afrika. Beberapa teman dekat yang mencobanya, melaporkan kesan positif atas produk ini. Umumnya melaporkan baik untuk mengatasi jerawat. Berikutnya akan diproduksi krim wajah
Selain itu, bagi yang tidak suka rasa pahit daun afrika segarnya jika dilalab, atau tidak bisa menikmati aroma teh herbalnya yang menyengat, saya mencoba melakukan inovasi produksi teh herbal difermentasi. Khasiatnya diperkuat.
Yang mutakhir, ada penemuan baru ekstrak daun afrika Vernonia amygdalina ini, yang rasanya tidak terlalu pahit, aromanya lebih lembut, dan warnanya eksotik. Biasanya teh herbal warnanya kuning termasuk teh daun afrika, tetapi penemuan baru, yang sedang dalam proses pendaftaran HaKI, warnanya hijau zambrut. Daun afrika Bandung, geulis euy.

Setelah koran bersirkulasi  terbesar di Jawa Barat, harian Pikiran Rakyat, menerbitkan artikel saya tentang daun afrika, sehalaman penuh, puluhan deringan menyapa ponsel saya. Kebanyakan menyatakan ingin memiliki tanaman asal afrika tersebut. Sebagian lagi tidak mau repot-repot menanam, atau karena ketiadaan lahan yang memadai, mereka menanyakan harga helaian daun afrika.

Saya pun panik, pastinya bersama sukacita; sukacita yang panik. Upaya KIE (komunikasi-informasi-edukasi) yang saya lakukan ternyata menarik perhatian khalayak. Panik karena banyak sekali desakan kebutuhan akan daun afrika tersebut, sedangkan saya tidak memiliki kebun yang luas.
Untuk memenuhi permintaan dadakan ini saya mencoba browsing mencari pedagang daun afrika. Minta ampun, ternyata harganya mahal sekali, nyaris seribu perak (Rp1.000) per helai. Biasanya dijual dalam paket jumlah tertentu, misalnya Rp50 ribu untuk 60 helai daun afrika segar, atau Rp100 ribu untuk 60 helai daun afrika kering.
Saya belum pernah menjual daun afrika dalam bentuk daun segar. Biasanya GRATIS, tetangga dipersilakan bebas mengambil sendiri di halaman rumah saya dan lahan fasilitas lingkungan di seberang rumah.
Daun kering juga tidak pernah saya sediakan dalam bentuk helaian; hanya ada bentuk serbuk daun kering yang dikapsulkan. Yang terakhir ini hanya untuk percobaan dan belum ada uji dan ijin dari lembaga kesehatan, sehingga belum layak jual.
Mengapa saya tidak menjual helaian daun afrika? Ada beberapa pertimbangan.
Yang namanya herbal, khasiatnya hanya bisa dirasakan jika dikonsumsi rutin dan lama
Sulit menjaga kesegaran daun afrika, sehingga tidak praktis menjual daun segarnya. Baru dijajakan, sudah layu tidak menarik


Menjual daun kering juga tidak praktis, karena setelah dikeringkan, daun ini cenderung menarik lagi uap air di sekitarnya, sehingga mutu tidak terjamin.
Saya lebih senang melakukan sosialisasi agar setiap orang atau rumah tangga memiliki sendiri pohon daun afrikanya. Modalnya sangat kecil, sepuluh ribu setiap rumah sudah bisa memperoleh “apotek hidup.”
Daun afrika, seperti yang sudah saya ramalkan sejak 3 tahun lalu, akan mulai naik daun sekarang. Rasanya pahit seperti namanya bitter leaf, kata orang Inggris, tetapi nasibnya manis sekali.
Tanaman ini dapat ditanam di semua jenis lahan, dari tepi pantai hingga puncak gunung. Keluarga sangat sangat sangat sederhana yang tidak punya lahan bisa menanamnya pada pot kecil.
Khasiatnya mulai untuk jerawat yang bisa menyebabkan seseorang merasa kehilangan muka, hingga kanker yang bisa menyebabkan seseorang kehilangan nyawa; darah kotor dan pikiran kotor juga bisa digelontor.
Pemanfaatan tumbuhan ini dapat memasuki seluruh relung kehidupan manusia dan lingkungannya. Anda hidup sendiri, daun afrika bisa menemani, menjadi menu kudapat sehari-hari. Anda mulai hidup berdua dan berkeluarga, ingin membangun rumah, pohon kecil ini menjadi tanaman pagar penolak hama rayap.
Anda dapat berbagi dengan tetangga, jika masih punya lebih, kambing dan ikan pun dapat jatah preman. Ternak Anda akan lebih sehat, ikan terpacu beranak pinak. Begitu tertulis dalam jurnal-jurnal ilmiah.
Daun afrika sudah pasti naik daun. Lalu adakah peluang Anda bersama daun afrika untuk ikut juga naik daun? Mari kita olah, yang penting sekarang miliki dulu tanamannya.